Aku yang merasa lelah akan sebuah penantian panjang ini.
Sudahlah cukup, "fikirku".
Namun hari-hari proses ku membulatkan niat menyerah padamu.
Kau muncul dengan sapa sederhana yang membuatku hampir gila.
Padahal hanya satu kata yaitu 'hi'. Sesingkat itu, kamu ingat??
Kamu datang, dengan segudang cerita tentangmu tentangku.
Kamu datang, bagai secercah harapan untukku.
Kamu mungkin tidak sadar, kadang aku merindukan hal bodoh itu.. kamu bahkan tidak pernah tahu..
hal-hal ringan seperti perbincangan kita kala itu, keluh kesahmu ketika lelah setelah
seharian bekerja, suara tawamu melalui telepon di malam hari.
Mengapa ku sebut itu hal bodoh? karena itu semua awal dari keruntuhan sebuah niat yang sudah kubangun..
Lalu kita bertemu,
dengan semua ketakutanku, kepanikanku, kecerobohanku.
Saat itu, aku bahkan tidak dapat mengontrol seluruh organ tubuhku sendiri.
Jari-jari tangan serta kakiku dingin hingga terasa membeku.
Jangan tanyakan bagaimana jantungku dan gemetarnya tubuh ini
Aku takut jika kamu dapat mendengar suara detak jantungku yang kurasa terdengar ke seluruh telinga orang disekitar kita. Hahahah konyol bukan??
Aku tahu ini konyol, tapi tetap saja aku takut. Degup jantungku ini sulit sekali dikontrol saat dihadapanmu. Aku takut kamu benar-benar bisa mendengarnya.
Dan saat itu kamu tersenyum,
sudah ku peringatkan sebelumnya jangan senyum dihadapanku. Jangan.
Bertemu denganmu ini, sudah kutekadkan menjadi yang terakhir.
Kelak ketika kita bertemu secara tidak sengaja, semoga keadaan kita sama seperti dahulu.
Yang telah terjadi akhir-akhir ini, biarlah menjadi kenangan, entah untukmu atau untukku.
Takdir ini tidak berpihak padaku
Aku harus tetap menyerah padamu, aku harus melangkah.
Dan kamu jangan pernah takut, doaku menyertaimu, itu selalu.
Kamu punya ruang sendiri dihati ini, entah itu sebagai apa akupun tidak mengerti.
Aku tidak berusaha mematikan rasa ini, aku hanya mencoba menjinakkannya. Agar orang lain dapat masuk ruang lain dihati ini.
Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, jadi terus berbahagialah.. bukan untukku, tapi untukmu. Dan bahagiamu adalah bahagiaku. Sedikit terdengar bullshit memang, tapi apakah kau tahu, rasanya mencintai namun bertahan tanpa harus memiliki?
Bertahan untuk tidak mengungkapkan?
Percayalah, ini lebih buruk dari sekedar patah hati.
Dan kurang lebih 4 tahun ini aku sudah membuktikan bukan??
Aku menyerah.. Aku pergi.
Tuesday, April 18, 2017
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comment:
Post a Comment