Monday, June 16, 2014

Ketika aku dan kamu, menjadi ‘kita’

by Alinda Novia in 3:40 AM
Banyak yang bilang jika masa putih abu-abu adalah masa yang paling indah. Masa dimana kalian tumbuh menjadi dewasa, mencari jati diri dengan mencoba berbagai banyak hal. Sekolah, keluarga, persahabatan dan cinta. Hm.. cinta?
Oke. Bicara tentang cinta, semua orang punya kisahnya masing-masing. Entah kisah tersebut mereka inginkan atau tidak, menarik atau membosankan. Dan ini adalah segelintir kisah cinta gue. Entahlah..
**
                Seperti biasa, jika Sabtu di sekolah hanya ada kegiatan ekstrakurikuler. Saat gue lihat dari lantai 3 lapangan sekolah memang tampak padat dengan anak-anak ekskul futsal putra ataupun putri.
“Heh Fik, kenapa lo bengong? Kesambet aja ntar.” ujar Johan sambil menepuk pundakku.
                “Ah gue ngga bengong kok Jo, cuma… hm cuma.. hm” hardikku.
                “Cuma apa? Ngeles aja lo!” dengan wajah meledek.
                “Hhm Jo, liat deh cewek yang rambutnya panjang terikat memakai kaos merah. Yang lagi pegang botol air minum itu Jo, siapa sih dia?” tanyaku penasaran.
                “Ooo jadi dari tadi lo bengong ngeliatin dia? Hahh dasar! Gue kenal sih sama dia, tapi gak akan gue kasih tau lo sebelum traktir gue makan di kantin, gimana?” senyum sinisnya mengembang dengan tatapan mata berharap.
                “Sial, sama teman sendiri masih aja cari kesempatan dalam kesempitan” pergi meninggalkannya sambil menggerutu.
**
                Waktu istirahat tiba gue dan teman-teman bergegas menuju kantin. Johan menyikut tangan gue saat kami berpas-pasan di tangga dengan Dinda. Ia adalah gadis yang pernah gue tanyakan namanya pada Johan. Beberapa waktu lalu gue berhasil berkenalan langsung dengan gadis itu. Namanya Dinda Auliani, kami seangkatan. Gue hanya terpelanga saat ia melemparkan senyuman. Ia pun berlalu begitu saja tanpa sempat gue balas senyuman itu. “Dasar bodoh!!” gumam dalam hati.
                “Woy, kenapa lo? Kusut banget mukanya kayak cewek lagi datang matahari. Hahahaha” ejek Johan disertai suara tertawa teman lainnya.
                “Ah basi candaan lo, gue agak bete aja tadi ketemu Dinda tapi gak sempet bales senyumannya. Padahal kan … aaaakkhhh!” ucapku dengan nada kesal.
“Kkrriiiingggg…… Kkrriiiiingggg.”
Dering bel pertanda selesainya jam istirahat membuyarkan lamunan dikantin. Di sepanjang waktu istirahat gue hanya melamun, menyesali kebodohan gue yang tak sempat membalas senyum manis gadis yang gue suka.
                “Woy nyet ayo masuk cepet, kelas kimia nih. Gurunya kan rese telat dikit aja pasti dikasih tugas tambahan.” Ucap Johan sambil menepuk pundakku.
Di kelas gue bisa mengikuti pelajaran dengan baik, karena gue sudah merencanakan sesuatu. Haha semoga saja berjalan lancar rencana gue ini.

“Kkrriiiingggg…… Kkrriiiiingggg…. Krriiiiingggggg…… ”
                Akhirnya bel sekolah yang menandakan berakhirnya pelajaran hari ini berbunyi. Dengan segera gue menuju ruang kelas Dinda dan berharap ia belum keluar lebih dahulu. Dan benar saja, sesampainya gue disana ternyata pelajaran dikelasnya belum usai. 10 menit berselang belum ada gerak-gerik pintu akan terbuka.
                “Mungkin ada pelajaran dengan tambahan waktu” pikirku.
Setelah hampir setengah jam gue berdiri menunggu, akhirnya pelajaran dikelasnya usai.
                Terlihat dari luar kelas, dia masih sibuk membereskan buku-bukunya di meja. “Dindaa!”  gue sedikit berteriak memanggilnya.
                “Hey Fik, loh kok belum pulang? Jam pulang kan sudah lewat dari tadi.” ucapnya santai.
                “I.. Iya Nda, emang gue sengaja tunggu kelas lo selesai pelajaran. Ada yang mau gue tanyain ke lo langsung.”
“Haa.. mau tanya ape fik?” tanyanya memotong pembicaraan yang buat gue semakin gugup untuk bicara.
“Hhm.. gini Nda, besok kan weekend ada planning gak? Gue mau ajak lu nonton deh, hehe.. tapi kalo lo bisa sih.” ajakku dengan harap-harap cemas menunggu ia jawab.
                “Yahh kebetulan sabtu ini gue ada pertandingan futsal Fik, dan sepertinya sih sore baru selesai. Hm maaf ya..next time deh yuk” jawabnya dengan nada suara rendah.
“Oh gitu ya, ehmm gapapa kok Nda. Sukses ya tandingnya besok.” sambil menutupi rasa kecewa dihati gue dengan tersenyum padanya.

“Iya Fik, hehe makasih yaa! Eh gue pulang duluan ye udah sore nih, bye Fik” dengan senyuman kecil dan sedikit lambaian tangan ia pergi meninggalkanku.

---------------- BELUM BERES---------------kena lazy writting attack----------BYE----------------

0 comment:

Post a Comment

 

MOIN MOIN! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea